Page 36 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 36
PENDIDIKAN IPS KONSTRUKTIVISTIK DAN TRANSFORMATIF
karya Wesley tersebut justru yang paling luas mendapat sambutan dari 27
kalangan guru PIPS dibandingkan kedua karya di atas. Bahkan seperti
dikatakan oleh Barr, Barth, & Shermis (1977), definisi PIPS dari Wesley
(1937) pula lah yang kemudian dijadikan definisi “resmi” PIPS oleh “The
United States of Education’s Standard Terminology for Curriculum and
Instruction”. Definisi ala Wesley (1937) yang dimaksudkan adalah social
studies are the social sciences simplified for pedagogical purposes.
Karya-karya historiografi di atas jelas merefleksikan orientasi
pokok pada pengembangan dimensi intelektual-keilmuan. Bedanya,
bila Tyron sama sekali menolak perlunya pertimbangan psikologis.
Sementara Johnson (1934) dan Wesley (1937), masih memandang perlu
pertimbangan psikologis dalam pengembangan intelektual-keilmuan.
Namun pada dasarnya, mereka bertiga sesungguhnya adalah para
proponen utama dalam tradisi intelektual-keilmuan sejak di masa CSS
lalu.
Di kalangan komunitas PIPS global dan nasional sendiri,
penggunaan perspektif psikologis memang sering dinisbatkan kepada
karya historiografi Wesley (1937) di atas. Terma-terma simplified,
modified, adapted, dan semacamnya yang terdapat di dalam definisi
Wesley memang memberikan makna psikologis dalam hal pemilihan
materi. Tetapi, bila dicermati, konsep Wesley tersebut, seperti dalam tafsir
Wronski (1986), Frasser & West (1993), The Thesaurus of ERIC Descriptor
(2001), US Office of Education’s Standard Terminology for Curriculum and
Instruction, NCSS (1994), maupun oleh Somantri (2001), sangat kentara
bahwa orientasi intelektual-keilmuannya lebih menonjol daripada
orientasi psikologisnya. Hal ini berarti, bahwa konsep Wesley tidak bisa
dipandang sebagai peletak dasar-dasar psikologis terhadap pemikiran
PIPS, melainkan lebih pada basis intelektual-keilmuan.
Argumentasi yang bisa diajukan, dapat dirujuk di antaranya
pada pandangan Jean Fair (Farisi, 2005), bahwa dimensi psikologis
menyarankan perlunya pertimbangan “kepuasan pribadi individual
siswa” sebagai kerangka pemikiran yang dimungkinkan untuk PIPS.
Brubaker, Simon, & William (Farisi, 2005), juga mengkonseptualisasikan
dimensi psikologis sebagai program pendidikan yang memberikan
perhatian selayaknya terhadap masalah personal siswa dan
perkembangan alamiah mereka.
Dalam konteks ini, PIPS sebagai wahana bagi siswa untuk
membentuk jatidiri dan memperkukuh persepsi psikologisnya tentang
fitrah kediriannya. Tujuannya adalah mendidik dan memfasilitasi
mereka agar lebih berhasil di dalam melakukan relasi-relasi sosial dan
kekeluargaan, peningkatan diri-pribadi, pembentukan rasa percaya diri,
serta kemampuan beraktualisasi-diri.