Page 29 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 29
NASKAH BUKU BESAR PROFESOR UNIVESITAS TERBUKA
ejauh yang bisa dilacak dari jejak-jejak sosio-historis PIPS,
20
Simplementasi secara integratif ketiga perspektif konstruktivisme
tersebut di atas, telah memberikan signifikansi pijakan “psikologis, sosial,
etika-moral” dalam pengembangan PIPS di dunia, termasuk Indonesia.
A. PERIODE I: COMMITTEE ON SOCIAL STUDIES SD AWAL 1930AN
Dokumen pertama yang secara jelas merefleksikan paradigma
konstruktivisme integratif terdapat di dalam the National Herbart Society
papers of 1896-1897, yang menegaskan bahwa PIPS sebagai “delimiting
the social sciences for pedagogical use” (Saxe, 1991; Smith, Palmer, &
Correia, 1995). Konsep tersebut kemudian dijadikan dasar pemikiran
PIPS seperti terdapat di dalam dokumen “Statement of the Chairman of
Committee on Social Studies”--Thomas Jesse Jones--yang dikeluarkan
oleh Committee on Social Studies (CSS) tahun 1913 (Murry, 1988).
Dalam dokumen tersebut juga dinyatakan bahwa PIPS sebagai
“a specific field to utilization of social sciences data as a force in the
improvement of human welfare”, yang memiliki kesamaan konseptual
dengan definisi PIPS dari Heber Newton, bahwa PIPS sebagai “specially
selected from the social sciences for the purpose of improving the lot or
the poor and suffering urban worker” (Saxe, 1991:17). Sedangkan tujuan
PIPS adalah mendidik siswa sebagai warganegara yang baik (good
citizenship), warga-masyarakat yang konstruktif dan produktif; yaitu
warganegara yang memahami dirinya sendiri dan masyarakatnya,
mampu berasa sebagai warganegara, berpikir sebagai warganegara,
bertindak sebagai warganegara, dan jika mungkin juga mampu hidup
sebagaimana layaknya warganegara.
Untuk mencapai tujuan tadi, PIPS tidak memberikan pengetahuan
yang rinci dan lengkap dari setiap bidang ilmu, melainkan sejauh
materi-materi tersebut memiliki signifikansi kuat pada diri siswa dan
komunitasnya, serta bisa meningkatkan hasrat mereka untuk lebih jauh
mengerti dirinya dan lingkungannya.
Materi-materi dari tangan pertama atau yang diangkat dari
lingkungan setempat, utamanya yang memahamkan siswa tentang
relasi mutualistik dari kekuatan-kekuatan dan peristiwa-peristiwa
sekitar yang bisa diamati dan dicermati dalam aktivitas keseharian
di sekolah sangat disarankan, daripada materi-materi yang terdapat
di dalam buku-buku teks. Kecuali yang memuat kondisi-kondisi dan
pengalaman-pengalaman aktual, atau topik-topik keseharian seperti:
sanitasi, kesehatan, perumahan, makanan alami, pekerja siswa, rekreasi,
dan pendidikan sosial.