Page 25 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 25
NASKAH BUKU BESAR PROFESOR UNIVESITAS TERBUKA
(PIPS sebagai kajian terpadu yang terdiri dari ilmu-ilmu sosial dan
16
humaniora untuk mengembangkan kompetensi kewarganegaraan.
Di dalam program sekolah, PIPS merupakan suatu bentuk kajian
terkoordinasi dan sistematik yang berasal dari disiplin-disiplin seperti
antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu
politik, psikologi, agama, dan sosiologi, maupun materi-materi yang
berkaitan dari humaniora, matematika, dan ilmu alam).
Penggunaan pendekatan integratif, secara teoretik juga didasarkan
pada pemikiran Sanders (1996) yang secara khusus mengkaji fenomena-
fenomena “perkembangan pemikiran siswa”, yang termasuk di dalam
ontologi kajian “ilmu-ilmu kognitif” (cognitive sciences). Signifikansi
kerangka pemikiran holistik, integratif, sistemik, atau ekologis dalam
kajian kognitif, didasarkan pada asumsi epistemologis bahwa fenomena
perkembangan kognisi organisme manusia sesungguhnya juga
merupakan produk dari sebuah proses seleksi alamiah yang panjang di
dalam suatu lingkungan yang terus berubah, dan karena itu organisme
manusia [termasuk perkembangan kognisinya] juga dipengaruhi oleh
lingkungannya (fisikal, sosial dan kultural).
Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan
subjek (siswa, guru, atau pakar) tentang fenomena-fenomena PIPS
(tujuan, isi, dan konteks pembelajaran) juga merupakan produk dari
sebuah proses seleksi alamiah yang panjang di dalam suatu lingkungan
psikologis, sosial dan kultural personal dan masyarakat yang terus
berubah. Bahwa fenomena-fenomena PIPS pada dasarnya tersusun
secara bertingkat tetapi terpadu, hasil interrelasi, saling-hubungan
dan saling-ketergantungan esensial dari semua fenomena (personal,
interpersonal, dan sosiokultural).
Perlu ditegaskan pula, bahwa susunan dan tingkatan konstruksi
fenomena PIPS yang dimaksudkan, semata-mata hanyalah pembagian
“konseptual”, bukan menggambarkan kenyataan yang sebenarnya
tentang PIPS yang sedemikian kompleks dan silang-kait, serta dinamis
atau berubah-ubah. Konseptualisasi tentang realitas PIPS ini hanya
dimaksudkan untuk kepentingan analisis, atau “penyederhanaan” agar
persoalan yang sedemikian kompleks dapat didekati dan dipahami
secara lebih tajam dan terfokus, tanpa harus mendistorsi dan mereduksi
realitas kurikulum PIPS ke dalam realitas-realitas partikular dan
fragmentaris, yang sesungguhnya begitu kompleks, bertingkat, dan
terintegrasi.
Model kajian integratif ketiga perspektif konstruktivisme tersebut,
dapat divisualisasikan sebagai berikut.