Page 108 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 108

PENDIDIKAN IPS KONSTRUKTIVISTIK DAN TRANSFORMATIF

              Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, maka gagasan pola
          pengorganisasian isi kurikulum PIPS dari Hanna (1965),  Taba (1962),   99
          CSS Saxe, (1991) dan Dewey (1962) yang menempatkan siswa sebagai
          titik fokus (a self-centeric focus) dan muatan kurikulum berupa gagasan,
          kejadian,  praktik,  proses,  kasus,  dan/atau masalah  yang  terjadi  di
          lingkungan sekitar yang memungkinkan siswa melakukan kontak
          langsung, dekat, dan intim dengan pengalaman kesehariannya, masih
          bisa digunakan dan relevan dengan prinsip sirkularitas atau siklusial
          dalam perspektif konstruktivisme. Selain itu, secara epistemologis juga
          sejalan  dengan  pengertian  rekonstruksi  yang  sudah  dikemukakan
          sebelumnya, maupun  dalam  perspektif  konstruktivisme  yang  lebih
          menekankan pada makna  negotiating, interacting,  dan  dialoging, dan
          bukan “radical revolution” ala Kuhnian (Kuhn, 2001).
              Akan tetapi, pemberlakukan prinsip “artikulasi yang ketat dan logis”
          terhadap konsep dan generalisasi, serta kemampuan dan keterampilan
          intelektualisme-keilmuan, dipandang terlalu atomistik, tidak bisa
          dipertahankan lagi. Salah satu sebabnya, adalah karena fenomena
          kurikulum di tingkat praksis tidak bisa sepenuhnya dibingkai dan diatur
          menurut suatu pola yang logis, kaku dan disiplin-formal. Konstruksi
          kurikulum demikian, cenderung mengabaikan realitas konteks praktis
          yang pada dasarnya sangat  “kontekstual-fenomenalistik-holistik”
          (Winataputra, 2001a). Prinsip pengartikulasian secara ketat dan logis ala
          Taba dan Tyler (Conrad & Haworth, 1995), juga merupakan sasaran utama
          kritik dari banyak proponen aliran pemikiran kurikulum posmodernisme.
              Berdasarkan argumentasi di atas, maka rekonstruksi pola
          organisasi  materi  kurikulum  PIPS  yang  diupayakan  dan  diajukan  di
          dalam kajian ini, menempatkan  “tema-tema” atau  “jalinan tematikal”
          sebagai pengorganisasi materi, bukan konsep dan generalisasi dalam
          sistem kurikulum Hanna (1965), dan  Taba (1962); menekankan pada
          dan bertujuan untuk mengembangkan  “kompetensi-kompetensi
          dasar” (personal-sosial-intelektual) siswa secara simultan, bukan pada
          kemampuan atau keterampilan intelektualisme semata dalam sistem
          kurikulum Taba (1962).
              Penggunaan kompetensi-kompetensi yang direkonstruksi di
          dalam  studi  ini,  disesuaikan  dengan  tema-tema  yang  dikembangkan
          secara sirkular atau spiral dari tema-tema yang berada pada tataran
          kehidupan individual siswa, lingkungan terdekat, hingga lingkungan
          dunia. Lingkungan dalam rekonstruksi ini hanya berfungsi sebagai
          konteks bagi pemilihan dan pengembangan tema-tema, bukan sebagai
          fokus kajian seperti di dalam pola CSS dan Hanna.
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113