Page 104 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 104
PENDIDIKAN IPS KONSTRUKTIVISTIK DAN TRANSFORMATIF
Menempatkan dasar pemikiran kurikulum posmodernisme dalam 95
“terma-terma (evolusi) biologis”, Doll (1985; 1995) bermaksud bahwa
kurikulum sebagai pola pengaturan pengalaman belajar bermakna,
harus memberikan peluang besar kepada siswa untuk melakukan
aktivitas “pengorganisasian-diri” (self-organization), “pengaturan-
diri” (self-regulation) ke arah penciptaan bentuk kreasi-kreasi baru
secara spontan sepanjang hidupnya, yang sesungguhnya merupakan
sebuah proses akomodasi dan adaptasi berkesinambungan dari siswa
ketika berinteraksi, berdialog, bernegosiasi dengan dirinya, orang lain,
lingkungannya (biologis, sosial, kultural, dsb). Pandangan Doll (1985;
1995) tersebut, didasarkan pada pandangan Piaget (Thomas, 1979)
bahwa kemampuan pengaturan-diri secara otonom, atau organisasi-diri
adalah esensi dari hidup itu sendiri.
Seperti juga sudah dikemukakan di atas, rekonstruksi pola
organisasi isi kurikulum dalam kajian ini juga terdapat paralelitas dengan
empat fondasi kurikulum posmodernisme (the Four R’s), yakni:
(1) kaya (Richness), bahwa kurikulum harus bersifat generativitas,
multi-tafsir, dan multi-makna. Dasar ini identik dengan prinsip
siklus-berjenjang;
(2) rekursif (Recursion), bahwa kurikulum harus mengundang siswa
untuk selalu berefleksi tentang dan berdialog dengan dirinya, serta
berinteraksi secara berkelanjutan dengan siswa lain, guru, teks,
kebudayaan, dll. Dasar ini identik dengan prinsip sirkularitas atau
spiral;
(3) keterhubungan (Relations), yaitu bahwa kurikulum harus
merupakan sebuah jaringan, pola-pola keterhubungan, atau
sebuah sistem yang kompleks, kaya, multi-tafsir dan stabil. Dasar
ini identik dengan prinsip sirkularitas, spiral, siklus-berjenjang, dan
keterjalinan; dan
(4) keketatan (Rigor), yaitu bahwa kurikulum harus koheren, integratif,
atau merupakan kesatuan yang dinamis dari masalah, peluang,
atau tantangan di dalam isi kurikulumnya. Dasar ini identik dengan
prinsip keterjalinan tematikal dan rekonstruksi-rekonstruksi makna
(Doll, 1989).
Dengan mengidentifikasi keempat pilar di atas, maka gagasan
kurikulum posmodernisme sesungguhnya terdapat adanya paralelitas
dengan gagasan rekonstruksi kurikulum di dalam studi ini. Bisa dikatakan
pula, bahwa gagasan kurikulum posmodernisme sesungguhnya
berpijak dan dikembangkan di atas paradigma konstruktivisme, tetapi
ditempatkan di dalam konteks dan wacana posmodernisme.