Page 103 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 103

NASKAH BUKU BESAR PROFESOR UNIVESITAS TERBUKA

                  A.   KONTEN PIPS SEBAGAI ORGANISASI SISTEMIK
            94
                      Pola pengorganisasian isi/konten kurikulum  dimaksudkan
                  sebagai  cara atau pendekatan  yang digunakan untuk menyusun dan
                  mengembangkan pengalaman-pengalaman belajar PIPS yang dapat
                  mengkontribusi cara dan pendekatan siswa di dalam mengorganisasi
                  dan membangun struktur pengetahuan, nilai, sikap, dan tindakannya
                  dalam latar kehidupan pribadi, sosial, dan budaya secara mandiri. Isi
                  kurikulum dimaksudkan sebagai muatan pengalaman-pengalaman
                  belajar PIPS (pengetahuan, nilai, dan sikap) yang bermakna (meaningful
                  learning experiences) bagi siswa.
                      Pola pengorganisasian isi kurikulum tersebut dikaji dari aspek:
                  tingkat kesesuaian, relevansi, kebermaknaan, dan kelayakannya dilihat
                  dari: (a) konteks personal siswa (konstruksi pengetahuan lama, domain
                  pengalaman, jaringan struktur pengetahuan, identitas sosio-kultural,
                  dan domain psikologi siswa); dan (b) konteks sosial, kultural, dan
                  historikal masyarakat yang menjadi latar kehidupan keseharian siswa
                  dan pengembangan dan implementasi PIPS.
                      Dalam perspektif konstruktivisme Piagetian maupun Vygotskyan,
                  organisasi muatan internal anak terbentuk di dalam suatu “organisasi
                  sistemik” (systemic organization) atau “tubuh informasi dan keyakinan”
                  (a body of information or belief a person) yang tersimpan dalam bentuk
                  “skema-skema” (cognitive and affective schemes) yang saling berkaitan
                  satu dengan lain membangun sebuah “jaringan struktural-fungsional”;
                  bukan sebatas sebagai agregat dari kemampuan, keterampilan, dan
                  potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah.
                      Pola organisasi konten kurikulum sebagai organisasi sistemik
                  ini, sangat relevan dan bisa mengakomodasi pemikiran-pemikiran
                  “kurikulum posmodernisme” yang  sudah  menjadi wacana  akademik
                  dewasa ini. Seperti dikemukakan oleh Efland (Farisi, 2005), kurikulum
                  posmodernisme menekankan pada arti penting isi kajian yang bersifat
                  “little narratives” yang diangkat dari pengertian siswa yang mendalam
                  yang diperoleh dan dihayati dari pengalaman-pengalaman setempat,
                  sehingga bisa memberikan porsi lebih besar bagi terjadinya keragaman
                  perspektif dan pertimbangan personal siswa.
                      Bahkan,  William Doll (1985) yang di kalangan posmodernisme
                  dianggap sebagai pandega kurikulum posmodernisme”, di dalam
                  mengembangkan gagasannya tentang kurikulum posmodernisme,
                  juga banyak beranjak dari pemikiran-pemikiran Dewey (1962), Piaget
                  (Thomas,  1979),  dan  Bruner  (1978),  yang  sesungguhnya  pula  adalah
                  teoretisi dan filosof beraliran konstruktivisme.
   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108