Page 105 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 105
NASKAH BUKU BESAR PROFESOR UNIVESITAS TERBUKA
B. PRINSIP PENGORGANISASIAN KONTEN PENDIDIKAN IPS
96
Sementara pola perkembangan organisasi muatan internal
anak terbentuk menurut pandangan konstruktivisme Piagetian
mengikuti prinsip “sirkularitas” atau “siklus-berjenjang” sejalan dengan
tahapan perkembangan personal siswa; atau menurut Vygotsky
(Kozulin, 1998) mengikuti prinsip “saling kerjasama, saling mendukung,
dan saling memediasi di antara fungsi-fungsi psikologis” melalui
mekanisme internal atau intra-psikologis (konstruktivisme personal);
mekanisme interpersonal, inter-psikologis, atau sosial (konstruktivisme
interpersonal/sosiokultural); juga melalui mekanisme eksternal atau
sosiologis (konstruktivisme sosiologis).
Dengan demikian, maka secara paradigmatik, isi kurikulum PIPS
dipandang memiliki sebuah pola organisasi dan struktur, apabila tercipta
dalam bentuk sebuah “jalinan atau relasi sistemik yang saling berkaitan
penuh makna” di antara satu bagian materi dengan bagian materi yang
lain, hingga membangun sebuah totalitas atau kesatuan bidang-materi
(subject matter); berdasarkan prinsip “sirkularitas” atau “siklus-berjenjang”,
serta sejalan dengan mekanisme-mekanisme personal, interpersonal,
dan sosiologis.
Berdasarkan konteks dan prinsip di atas, maka gagasan rekonstruksi
pola organisasi materi PIPS perlu didasarkan prinsip “a student’s
psychological, socio-cultural, and intellectual horizons reconstructions
character-based” (Farisi, 2005: 255), yakni bawa materi-materi kurikulum
PIPS:
1. dapat dimengerti, dijelaskan, dan dimaknai secara personal
(individually defined). Artinya, bahwa pola organisasi isi kurikulum
harus assimilatif, akomodatif, dan adaptif dengan mekanisme-
mekanisme dan fungsi-fungsi internal siswa.
2. merupakan alat-alat psikologis (psychological tools) yang bersifat
sosiokultural yang dapat dijadikan mediasi dan jembatan bagi
siswa untuk melakukan modifikasi dan tranformasi struktur dan
fungsi-fungsi internalnya (kognitif, afektif, dan motorik) ketika
interaksi dan komunikasi pembelajaran terjadi (a sociocultural
learning mediated).
3. memiliki relevansi dan singnifikansi tinggi secara sosial, kultural, dan
historikal (a socially, culturally, and historically relevant excellence).
4. merupakan suatu jalinan atau relasi yang saling berkaitan penuh
makna (a meaningful systemic organization) di antara satu bagian
materi dengan bagian materi yang lain, menjadi sebuah totalitas
atau kesatuan materi (subject matter).