Page 13 - Pendidikan IPS : Konstruktivistik da Transformatif
P. 13

NASKAH BUKU BESAR PROFESOR UNIVESITAS TERBUKA

                  pendidikan, sesungguhnya bersifat siklikal, sebagai “konsensus-responsif”
             4
                  dunia pendidikan dan komunitasnya terhadap kondisi, tantangan, dan
                  masalah yang dihadapi, internal maupun eksternal.

                  C.   DILEMA PARADIGMA PENDIDIKAN IPS

                      Persoalan yang dihadapi oleh PIPS sebagaimana dikemukakan
                  di atas, jelas bukan sebatas persoalan di tingkat instrumental,
                  metodologikal, atau praktikal. Melainkan sudah pada tataran
                  paradigmatik.  Yaitu, kekurangakurasian paradigma yang digunakan
                  sebagai  kerangka  pemikiran  di  dalam  mengembangkan  PIPS  sebagai
                  sebuah program pendidikan, yang selama ini dikembangkan atas dasar
                  paradigma esensialisme yang berorientasi pada proses dan produk
                  keilmuan.
                      Hasil-hasil kajian mutakhir dari perspektif multikultural yang
                  dilakukan oleh para pakar seperti Jegede (2000), Aikenhead (2002),
                  Zamroni (2001), Stanley (1985), dan Ogawa (2002) juga sampai pada
                  keyakinan  bahwa keniscayaan  kurikuler  esensialistik  semacam  itu,
                  dapat  menghambat perkembangan  tahapan  progresif  kognitif  anak,
                  mendistorsi atau merusak “genuine concepts”, “indigenous science”, atau
                  “spontaneous  concept” siswa tentang alam semesta yang dibangun
                  dan dikembangkan dari keseharian pengalaman personal, sosial dan
                  kulturalnya di masyarakat.
                      Pendidikan yang esensialistik juga dapat mencabut siswa dari
                  situasi nyata yang menjadi basis pembentukan dan penggunaannya;
                  kurang bermakna bagi siswa; dan menunjukkan adanya “hegemoni atau
                  imperialisme pendidikan” atas diri siswa. Bahkan, lebih jauh lagi dapat
                  mendistorsi atau merusak  self-concept  siswa yang merupakan faktor
                  esensial bagi pembentukan identitas atau karakter siswa.
                      Berdasarkan berbagai alasan di atas, dan sejalan dengan
                  terjadinya perubahan paradigma pendidikan semenjak medio 1980an,
                  dari paradigma  “Mainstream Academic Knowledge” ke paradigma
                  “Transformative Academic Knowledge” (Banks, 1995), maka PIPS perlu
                  direkonstruksi sejalan dengan perkembangan paradigma pendidikan
                  mutakhir, yakni konstruktivisme. Signifikansi paradigma konstruktivisme
                  (terutama konstruktivisme Piagetian dan Brunerian) dalam konteks
                  rekonstruksi PIPS tersebut, juga sudah menjadi komitmen profesional
                  NCSS sejak tahun 1994.
                      Dalam kaitan ini,  Winataputra (2001a  ; 2001b) menegaskan
                  bahwa,  pandangan konstruktivisme akan menjadi salah satu pilar
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18